PENGGUNAAN
BIOSENSOR BI-ENZYMATIC WHOLE CELL UNTUK DETEKSI ION LOGAM DAN PESTISIDA PADA
SAMPEL AIR
Oleh:
Afifa Husna 125100100111015
Nur Khasanah N 125100107111054
Kelas Q
JURUSAN
TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS
TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
2015
PENDAHULUAN
Air
merupakan elemen terpenting bagi kehidupan karena selain untuk dikonsumsi
langsung, air juga digunakan di berbagai keperluan manusia salah satunya
pengairan pertanian. Namun, saat ini penggunaan berbagai zat berbahaya seperti
pestisida dan bahan yang mengandung logam berat oleh manusia membuat banyak
sumber air bersih tercemari. Sehingga perlu kehati-hatian dalam memilih sumber
air yang akan digunakan untuk berbagai kebutuhan. Karena air dalam penggunaanya
sangat luas dan kontinyu, maka dibutuhkan pengujian yang efisien untuk
pengujiannya (Chouteau et al., 2005).
Pemakaian
pestisida didominasi oleh dua jenis insektisida yaitu senyawa karbamat dan
organofosfat yang banyak digunakan pada bidang pertanian. Hal ini dikarenakan
kestabilannya yang rendah di lingkungan dibandingkan jenis organoklorin.
Keduanya merupakan senyawa yang membahayakan karena merupakan penghambat kerja
kelompok enzim hidrolase (esterase) yang terdapat pada saraf pusat manusia
yaitu enzim asetilkolinesterase (AChE). Enzim ini berfungsi untuk
menghidrolisis asetikolin pada membran untuk mencegah terjadinya akumulasi. Penghambatan
AChE ini membuat asetilkolin terakumulasi sehingga terjadi disfungsi beberapa
sistem saraf dan memicu kerusakan sistem pernafasan yang dapat menimbulkan
kematian (Mashuni dkk., 2010).
Sedangkan
residu logam berat semakin meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas
industri dan domestik. Jika sampai cemaran logam berat ini mengenai perairan
yang digunakan untuk irigasi lahan pertanian, maka akan sangat membahayakan.
Sifat logam berat yang akumulatif memungkinkannya untuk terakumulasi dalam
hasil pertanian (Arifin dkk., 2005). Sudah sejak lama diketahui logam berat
merupakan salah satu penyebab terjadinya berbagai gangguan kesehatan bahkan
penyebab kematian jika terus terakumulasi dalam tubuh.
Oleh
karenanya dibutuhkan metode pengujian yang cepat dan praktis dalam
mengidentifikasi adanya kedua jenis residu senyawa polutan tersebut. Jika
pengujian dilakukan satu per satu akan membutuhkan waktu yang lama padahal
kebutuhan manusia akan air tersebut harus segera dipenuhi. Karena sudah ada
penelitian mengenai penggunaan biosensor yang mengidentifikasi kedua senyawa
tersebut secara terpisah, maka penelitian ini dimaksudkan untuk membuat
perangkat alat biosensor yang mempunyai berbagai kelebihan dibandingkan
sebelumnya.
Jika
selama ini perangkat biosensor hanya menggunakan satu jenis enzim murni yang
hanya peka terhadap salah satu senyawa toksik, maka perangkat biosensor yang
akan dibuat kali ini adalah biosensor dengan menggunakan dua enzim sehingga
mempunyai sensitivitas terhadap lebih dari satu senyawa. Enzim ini didapatkan
dari salah satu organisme yang mempunyai enzim tersebut secara sekaligus yaitu
mikroalga Chrorella vulgaris yang
dapat mendeteksi keberadaan residu ion logam berat dan pestisida. Penggunaan organisme hidup ini juga
akan membuat biaya lebih murah karena bisa dikembangbiakkan tidak seperti enzim
murni yang harganya relatif mahal.
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Chlorella vulgaris
Mikroalga adalah organisme uniselular yang dapat berfotosintesis
menggunakan sedikit energy dan karbon dioksida, dan memiliki efisiensi
fotosintesis yang cukup tinggi (Miao et al. dalam Al-Iwayzy, 2014).
Chlorella vulgaris
termasuk dalam kelompok alga hijau (Chlorophyta)
yang berbentuk bola kecil dan berwarna hijau, sehingga biasa disebut “the green ball” atau bola hijau.Alga ini
pertama kali diperkenalkan dan diisolasi oleh Prof. M.W.
Beijerinck pada tahun
1889 di
Delft (Netherlands) (Ullmann,
2006).
Chlorella vulgaris
merupakan salah satu jenis alga yang berkemampuan tumbuh cepat dan mudah untuk
ditumbuhkan.Namun, keberadaanya belum banyak dikomersialisasikan dikarenakan
kandungan lipida yang rendah (Liu et al. dalam Al-Iwayzy, 2014).
Penelitian lain
telah menyebutkan bahwa Chlorella vulgaris dapat bertahan pada
lingkungan yang ekstrim serta banyak mengandung polusi terutama logam berat.
Hal ini dikarenakan Chlorella vulgaris
memiliki struktur yang relatif keras dan mempunyai sistem perbaikan DNA yang
cepat dan pertahanan diri yang kuat terhadap kerusakan oksidatif yang tidak
hanya disebabkan oleh bakteri atau virus, namun juga oleh logam berat (Liebke,
2015).
Pada penelitian yang diakukan oleh Greene (1985), Chlorella vulgaris diketahui sangat
efektif dalam meremediasi sampel air yang mengandung uranium (UO22+),
Pb2+, Al3+, Zn2+, Co2+, Cr3+,
Cu2+, dan Ni2+. Mekanisme penghilangan ion logam secara
biologis pada suatu larutan oleh Chlorella
vulgaris dibagi atas tiga tahap, yang pertama adsorpsi logam berat ke
dinding sel, kemudian logam tersebut di-uptakesecara
intraseluler dan yang terakhir adalah perubahan kimia dari ion logam (Greene,
1985).
2.
Enzim alkalin fosfatase dan cholinesterase
Alkalin fosfatase merupakan suatu enzim hidrolase yang dapat
memutus gugus fosfat dari beberapa molekul, antara lain nukleotida, protein dan
alkaloid. Proses dari pemutusan terebut adalah defosforilasi. Enzim ini bekerja
paling baik pada pH lingkungan yang basa (Tamas, 2002).
Menurut Ross et al. (1951),
enzim alkalin fosfatase memiliki aktivitas optimum pada pH sebesar 9,13 dalam
10 mg/ml glycerophosphate sebagai substrat. Namun nilai pH tersebut dapat
meningkat maupun menurun tergantung dari konsentrasi dan jenis substrat yang
digunakan.
Dalam biokimia, enzim cholinesterase merupakan salah
satu enzim yang berperan dalam mengkatalisis proses hidrolisis dari
acetylcholine menjadi choline dan asam asetat pada neurotransmitter. Enzim cholinesterase
mempunyai aktivitas optimum pada suhu berkisar antara 8,0 hingga 9,0 (Chadwick
et al., 1954). Secara umum, aktivitas enzim cholinesterase akan terhambat oleh
senyawa phosphorous yang akan berikatan langsung pada situs aktif enzim.
3. Karakteristik logam berat, organofosfat dan karbamat
Logam berat yang paling sering dijumpai sebagai
pencemar pada ekosistem perairan adalah arsenic, cadmium, chromium, copper,
nikel, timbal dan merkuri. Saat pH perairan menurun, maka solubilitas logam berat
akan meningkat yang menyebabkan partikel logam tersebut dapat lebih mudah
bergerak.
Logam-logam berat tersebut
menjadi polutan pada perairan dikarenakan termasuk senyawa non-biodegradable,
yaitu senyawa yang tidak bisa dipecah lagi menjadi senyawa lain yang lebih
sedikit berbahaya bagi lingkungan. Secara umum, bentuk ion dari logam berat
adalah bentuk yang lebih berbahaya, karena ia dapat membentuk senyawa toksik
lain. Reaksi yang melibatkan transfer electron dan terhubung dengan oksigen,
akan membentuk senyawa toksik oksiradikal seperti anion superoxide (O2-)
dan hidroksi radikal (OH-) yang akan menyebabkan kerusakan jaringan
sel yang serius (Lenntech, 1998).
Untuk perlindungan terhadap kesehatan manusia,
Environmental Protection Agency memberikan rekomendasi tentang konsentrasi
maksimum logam berat pada perairan sebagaimana dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 1. konsentrasi maksimum logam
berat pada perairan
|
Metal
|
Chemical Symbol
|
Konsentrasi maksimum (mg/m3)
|
|
Mercury
|
Hg
|
0,144
|
|
Lead
|
Pb
|
5
|
|
Cadmium
|
Cd
|
10
|
|
Selenium
|
Se
|
10
|
|
Thallium
|
Tl
|
13
|
|
Nickel
|
Ni
|
13,4
|
|
Silver
|
Ag
|
50
|
|
Manganese
|
Mn
|
50
|
|
Chromium
|
Cr
|
50
|
|
Iron
|
Fe
|
300
|
|
Barium
|
Ba
|
1000
|
Sumber: EPA (1987)
4. Biosensor konduktometrik
Biosensor konduktometrik digunakan dengan cara memonitor laju reaksi dari
suatu larutan sehingga didapatkan nilai konduktansi. Teknik ini melibatkan
pengukuran perubahan konduktansi yang disebabkan oleh migrasi ion. Beberapa
reaksi yang melibatkan enzim akanmenghasilkan perubahan konsentrasi total ion
yang dapat diukur. Hal tersebutlah yang mendasari metode biosensor konduktometrik (Wilson, 2005).
FABRIKASI BIOSENSOR
Bahan
yang digunakan yaitu Chlorella vulgaris strain
(CCAP211/12) yang mengandung enzim akalin fosfatase dan acetylcholinesterase, Bovine
seum albumin (BSA), 25% larutan aqueous glutaraldehid (GA), substrat berupa
Paranitrophenyl phosphate (pNPP) dan Methyl-umbelli-feryl-phosphate (MUP), Fluorescein diacetate (FDA), Acetylcholine chloride (AchCl), dan Butyrycholine chloride (BChCl). Sedangkan
material untuk pembuatan biosensor bi-enzimatik ini terdiri dan terbuat dari
transduser konduktometrik, dua pasang logam platinum (Pt), logam timah (Ti), Si3N4,
elektroda, dan pyrex glass.
Sensor dibuat dengan menginterdigitasi 2 buah
elektroda Pt yang memiliki ketebalan 150 nm pada substrat gelas pirex
menggunakan proses lift off. Untuk
meningkatkan tingkat adhesi dari Pt terhadap substrat, maka digunakan Ti
intermediate dengan ketebalan 50 nm.Bagian tengah sensor dipasifkan dengan
menambahkan lapisan Si3N4 untuk menunjukkan bagian sensor
yang menjadi “situs aktif”. Sensor didesain dengan lebar digit dan jarak
interdigital sebesar 10 µm dan panjang 1 mm, sehingga bagian sensitive pada
masing-masing elektroda adalah sebesar 1 mm2.
Pengukuran substrat dilakukan berdasarkan deteksi
keberagaman konduktivitas dari larutan yang ada di dalam membran BSA yang
mengandung mikroalga. Alkaline phosphatase dan chlorinesterase, layaknya enzim
lain, juga akan meng-induce reaksi katalis dengan menkonsumsi atau memproduksi
ionic species yang berbeda yang akan menghasilkan perubahan konduktivitas yang
dapat diukur.
HASIL
a. Pengukuran
Residu Logam Berat
Ion logam berat yang
diuji ada tiga, yaitu Cd2+, Zn2+, dan Pb2+.
Enzim yang bertanggung jawab menguji adanya ion logam adalah enzim alkalin
fosfatase. Kecepatan aktivitas residual alkalin fosfatase (APAres)
untuk dua konsentrasi substrat pNPP setelah dipaparkan ion logam Cd2+
dan Zn2+ (1 ppb sampai 1 ppm). Kedua ion logam tersebut memberikan
penghambatan yang signifikan pada enzim pada konsentrasi 1 ppm dan 100 ppb
setelah dipaparkan selama 30 menit.
Untuk ion logam Cd2+,
APAres kurang dari 85% untuk 100 ppb dan kurang dari 50% untuk 1
ppm. Ion logam Zn2+, APAres kurang dari 75% untuk 100 pb
dan kurang dari 70% untuk 1 ppm. Sehingga dari sini, Cd2+ sama
halnya dengan Zn2+, konsentrasi 10 ppb dapat dikatakan sebagai
konsentrasi batas/limit deteksi. Pemaparan yang dilakukan selama 60 menit pada
konsentrasi 10 ppb telah dilakukan terhadap Cd2+ dan Zn2+,
tetapi tidak terjadi penghambatan yang signifikan. Sedangkan Ion logam Pb2+
juga diketahui sebagai penghambat aktivitas enzim alkalin fosfatase (APA)
(Durrieu et al., 2003). Namun dengan biosensor konduktometrik tidak terjadi
penghambatan yang terdeteksi walaupun diberikan konsentrasi ion logam Pb2+
yang tinggi (1 ppm dan 100
ppb).
Untuk mengetahui apakah
terjadi efek sinergis dan antagonis dari kedua ion logam Cd2+ dan Zn2+,
dilakukan pencampuran larutan yang mengandung kedua ion logam tersebut dengan
cara biosensor dipaparkan selama 30 menit (hasil lihat gambar 6). Konsentrasi
campuran ion logam yang diuji adalah 1
ppm Cd2+/1 ppm Zn2+ dan 100 ppb Cd2+/100 ppb
Zn2+. Untuk campuran dengan konsentrasi 100 ppb, APAres berkurang
85% dan berkurang 40% untuk konsentrasi 1 ppm. Sehingga konsentrasi 10 ppb
diperkirakan sebagai limit deteksinya. Karena sulit membandingkan APAres dihitung
dengan biosensor yang berbeda, bioassay menggunakan C.vulgaris bebas (tidak diketahui strainnya) dipaparkan ke Cd2+/Zn2+
selama 240 menit yang hasilnya dapat diketahui pada gambar 7. Namun
dengan kedua cara yang berbeda tersebut tidak memungkinkan untuk menentukan
efek antagonis atau sinergisnya.
Berdasarkan berbagai
hasil pengujian yang didapatkan diatas dapat diambil bebarapa kesimpulan.
Pertama, membandingkan perhitungan APAres untuk biosensor dan
bioassay telah menunjukkan bahwa biosensor mempunyai sensitivitas lebih tinggi
dibandingkan bioassay. Pemaparan dengan waktu yang lebih singkat, APAres lebih
tinggi untuk biosensor. Sebagai contoh APAres adalah 50% setelah 30
menit pemaparan terhadap 1 ppm Cd2+ dengan biosensor, namun bioassay
membutuhkan waktu 240 menit untuk mencapai tingkat penghambatan yang sama. Penjelasan
mengenai sensitivitas biosensor yang lebih tinggi ini karena pada biosensor
digunakan jumlah organisme target lebih sedikit yang dipaparkan ke senyawa
toksik dibandingkan bioassay. Bioavailibilitas ion logam juga merupakan faktor
penting, karena pada bioassay, Pb2+ sangat menghambat APA (lihat
gambar. 7), tetapi pada biosensor tidak terjadi penghambatan.
b. Pestisida
Pestisida yang diuji
pada artikel ini adalah karbamat jenis carbofuran
(CF) dan organofosfat jenis parathion-methyl (MP) , keduanya
diketahui sebagai penghambat enzim acetylcholinesterase
(AChE). Biosensor alga konduktometrik diikubasi atau dipaparkan ke CF dan
MP selama 30 menit. Namun, mereka tidak menunjukkan penurunan sinyal. Tidak
adanya hambatan AChE C.vulgaris terhadap
CF dan MP ini juga tejadi pada bioassay. Padahal pada penelitian yang dilakukan
oleh beberapa peneliti sebelumnya menunjukkan bahwa dua pestisida tersebut mempunyai
pengaruh terhadap enzim AChE murni yang imobilisasi ke biosensor dan penghambatan
terjadi secara signifikan oleh CF. Sedangkan untuk pestisida MP, studi yang
sudah dilakukan lebih sedikit. Hal ini dimungkinkan karena tingkat toksisitas yang
rendah terhadap enzim AChE murni. Namun diketahui bahwa oraganofosfor mudah
terdegradasi menjadi produk yang berbeda, salah satunya MP yang mempunyai
penghambatan yang tinggi terhadap enzim AChE.
Dalam pengujian
pestisida, organofosfat diuji menggunakan enzim AChE yang terdapat pada
mikroalga C.vulgaris. biosensor diinkubasi
selama 30 menit dalam 1 ppm dan 100 ppb AChCl, penghambatan akan terjadi pada
kedua konsentrasi tersebut (lihat gambar. 8). Pada 100 ppb, kecepatan aktivitas
residual AChE (AChEres) adalah 80% untuk 4mM AChCl dan untuk 1 ppm,
AChEres lebih kecil dari 85% untuk kedua konsentrasi AChCl. Hasil
bioassay juga menunjukkan adanya penghambatan untuk jenis enzim esterase dari C.vulgaris yang ditunjukkan pada gambar.
9 (AChEres adalah 70% untuk 100 ppb dan 50% untuk 1 ppm).
Hasil tersebut
membuktikan sensitivitas C.vulgaris terhadap
pestisida karbamat dan organofosfat. Sedangkan untuk sensitivitas enzim AChE
murni terhadap pestisida lebih rendah. Dapat disimpulkan bahawa respon dan
sensitivitas dari biosensor tegantung pada asal enzim yang dipakai.
c. Campuran
Cd2+/MP
Percobaan pertama dilakukan
dengan pemaparan biosensor selama 30 menit terhadap campuran yang mengandung 25
ppb Cd2+/50 ppb MPx (lihat gbr.10). APAres dan AChEres
yang didapatkan dengan dua biosensor dibandingkan dengan yang didapatkan
setelah dipaparkan ke larutan Cd2+ dan MPx (lihat gbr. $ dan 9). Untuk
APA, 25 ppb Cd2+ tidak memberikan sinyal penurunan APA. Untuk AChE
diukur dengan biosensor yang sama, ternyata terjadi penghambatan (AChEres adalah 80% dan 65% tergantung biosensor). Selanjutnya
efek sinergis dan antagonis dari campuran ini dapat diamati pada aktivitas
enzim keduanya (gbr. 10).
Dengan hasil dari
percobaaan pertama yang menggunakan campuran sebagai larutan yang diuji
membuktikan bahwa biosensor bi-enzimatik ini dapat menjadi pertimbangan yang
baik untuk membedakan senyawa toksik pada larutan yang tidak diketahui
kandungannya berdasarkan aktivitas enzim mana yang terhambat.
PERBANDINGAN
BIOSENSOR BI-ENZIMATIK DENGAN METODE LAIN
a. Perbandingan
dengan metode konvensional dalam pengujian residu logam berat dan pestisida
Pengujian residu ion
logam dan pestisida menggunakan biosensor bi-enzimatik dapat mendeteksi residu
ion logam berat dan pestisida secara bersamaan. Namun cara atau metode
konvensional tidak bisa dilakukan secara bersamaan. Pengujian seluruh jenis ion
logam berat juga tidak bisa dilakukan secara bersamaan karena perbedaan
karakteristik yang dimiliki. Metode
pengujian adanya residu ion logam berat, metode konvensional yang biasanya
digunakan adalah Neutron Activation
Analysis (NAA) yang digunakan untuk mendeteksi ion logam Zn2+, Hg2+
dan Cd2+, sedangkan metode Atomic
Absorption Spectrophotometry (AAS) digunakan untuk mendeteksi ion Pb2+
(Arifin dkk., 2005).
Pengujian adanya residu
pestisida jenis karbamat dan organofosfat secara konvensioanal dilakukan dengan
menggunakan kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT), dan Karl
Fisher Titrator. Namun metode yang sering digunakan dalam pengujian kadar
resdiu pestisida adalah kromatografi gas (Kristianingrum, 2009).
Metode menggunakan
biosensor konduktometrik bi-enzimatik dengan metode konvensional memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut tabel yang menyajikan hal
tersebut.
|
Metode
|
Kelebihan
|
Kekurangan
|
|
Biosensor bi-enzimatik
|
· Dapat
mendeteksi residu ion logam dan pestisida sekaligus
· Biaya relatif
lebih murah
· Perangkat
berukuran lebih kecil
· Proses analisa
lebih sederhana
· Hasil analisa
cepat diketahui
|
· Keakuratan
tergantung sensitivitas enzim
· Tidak semua
jenis ion logam berat yang dapat terdeteksi
· Penyimpanan
alat membutuhkan kosndisi lingkungan yang sesuai karena menggunakan komponen
makhluk hidup
|
|
Konvensional
|
· Ketelitiannya
lebih tinggi
· Jenis senyawa
toksik yang bisa terdeteksi lebih kompleks
|
· Biaya relatif
mahal
· Proses analisa
rumit
· Membutuhkan waktu
lama untuk mengetahui hasil analisa
· Membutuhkan
banyak komponen alat
· Perangkat alat
berukuran besar
· Jumlah alat
yang digunakan lebih kompleks
· Banyak
perlakuan pendahuluan terhadap sampel
· Membutuhkan
sampel standar sebagai pembanding pengujian
|
b. Perbandingan
dengan metode sebelumnya untuk analisa residu ion logam berat dan pestisida
Metode pengujian residu polutan seperti ion logam
berat dan pestisida dengan biosensor sebelumnya dilakukan secara terpisah. Karena
setiap polutan hanya bisa dideteksi dengan enzim tertentu saja jika menggunakan
biosensor berbasis enzim. Salah satu biosensor yang digunakan untuk mengecek
ion logam berat adalah biosensor dengan enzim urease yang diimobilisasi. Selain
itu biosensor yang sering digunakan untuk menguji adanya residu logam berat
adalah biosensor yang menggunakan enzim oksidase dan dehidrogenase yang
diimobilisasi. Biosensor ini digunakan untuk deteksi garam merkuri, seng,
perak, kadmium, dan tembaga berdasarkan jumlah inaktivasi enzim. Enzim yang
digunakan diimobilisasi dengan ikatan kovalen dengan glutaraldehid ke sebuah
membran dan dipasangi dengan elektroda oksigen Clark. Ketika diinkubasi dengan
substratnya, akan terjadi penurunan jumlah oksigen. Logam berat akan menghambat
enzim sehingga akan terjadi pengurangan konsumsi oksigen. Karena penghambatan
ini, enzim akan mengalami penurunan aktivitas (inaktivasi) dimana penurunan
aktivitas ini akan dikonversi sebagai sinyal adanya residu logam berta dalam
analit (Dennison dan Turner, 1995).
Pengujian pestisida mnggunakan biosensor juga
dilakukan dengan menggunakan satu jenis enzim yang spesifik. Salah satu contoh
pengujian pestisida menggunakan biosensor adalah biosensor yang berbasis enzim organophosphorus acid anhydrolase (OPAA)
untuk menguji kandungan pestisida organofosfat. Prinsip kerja biosensor ini
adalah enzim tersebut akan secara selektif menghidrolisis ikatan P-F dari
fluorin yang mengandung senyawa organofosfat seperti diisopropil fluorofosfat
(DFP). Enzim OPAA diimobilisasi ke
silica gel menggunakan ikatan kovalen. Pengukurannya dilakukan secara batch
melalui elektroda pH dari kaca yang berpermukaan datar. Elektroda ini akan
mendeteksi adanya perubahan pH seiring lepasnya ikatan P-F akibat pestisida
bereaksi dengan enzim. Di perangkat biosensor ini dilengkapi elektroda pH lain
sebagai standar, sehingga perubahan pH akan diukur sebagai konsentrasi residu
pestisida yang dideteksi (Simonian et al., 2001).
Sehingga dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa
perbedaan biosensor bi-enzimatik dengan biosensor sebelumnya adalah biosensor
bi-enzimatik ini menggunakan organisme hidup berupa mikroalga C.vulgaris yang mempunyai dua enzim yang
bisa mendeteksi keberadaaan residu ion logam berat dan pestisida secara
bersamaan. Sedangkan biosensor yang ada sebelumnya hanya menggunakan satu enzim
murni bukan dari oragnisme hidup yang sensitif terhadap salah satu dari
pestisida atau logam berat. Persamaannya yaitu prisnsipnya sama-sama
menggunakan penghambatan kinerja enzim sebagai tanda adanya resid polutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin
M, Subagio B.E, Rianto E., Purbowati E., Purnomoadi A., dan Dwiloka B. 2005. Residu
Logam Berat pada Sapi Potong yang
dipelihara di TPA Jatibarang, Kota Semarang Pascaproses Eliminasi selama 90
Hari. Semarang: Universitas Diponegoro.
Al-Iwayzy, S, H et al., 2014.Biofuels from the Fresh Water Microalgae Chlorella
vulgaris (FWM-CV) for Diesel Engines. Energies.ISSN
1996-1073.
Aziz,
Thamrin. 2012. Desain dan Karakterisasi
Biosensor Berbasis Imobilisasi Enzim untuk Analisis Residu Pestisida Dianzinon
dalam Tanaman Kubis (Brassica oleracea). Kendari: Universitas Haluoleo.
Chadwick, L. E., Lovell, J. B., Egner, V. E. 1954. The Relationship Between pH and the Activity
of Cholinesterase from Flies.The Biological Bulletin. Vol. 106, No 2
Chouteau,
Celine; Dzyadevych, Sergei; Durrieu, Claude; dan Chovelon, Jean-Marc. 2005. A Bi-enzymatic Whole Cell Conductrimetric
Biosensor for Heavy Metal Ions and Pesticides Detection in Water Samples. Ukraine:
Institute of Molecular Biology and Genetics.
Dennison
M.J., dan Turner A.P.F. 1995. Biosensor
for Environmental Monitoring. Cranfield: Cranfield University
0734-9750(94)000240-4.
Greene, B. 1985.Removal
of Heavy Metal Ions from Contaminated Water by Chlorella vulgaris.Chemistry
Departement, New Mexico State University.
Kristianingrum,
Susila. 2009. Kajian Berbagai Metode
Analisis Residu Pestisida dalam Bahan Pangan. Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarta.
Liebke, F. 2015. Chlorella
vulgaris – Medicinal Food.http://www.klinghardtacademy.com/ Diakses tanggal 29 Maret 2015 pukul 22.40.
Ross, M. H., Ely, J. O.,
Archer, J. G. 1951. Alkaline Phosphatase
Activity and pH Optima.The Jounal of Biological Chemistry.192:561-568
Simonian
Al., Grimsley J.K., Flounders A.W., Schoeniger J.S., Tu-Chen Cheng, DeFrank
J.J., Wild J.R. 2001. Enzyme-based
biosensor for the direct detection of fluorine-containing organophosphates.
Analytica Chimica Acta 442 (2001) 15-23.
Tamás L, Huttová J, Mistrk I, Kogan G. 2002. Effect of Carboxymethyl
Chitin-Glucan on the Activity of Some Hydrolytic Enzymes in Maize Plants. Chem.
Pap. 56 (5): 326–329
Ullmann, J. 2006. The Difference Between Chlorella vulgaris and
Chlorella pyrenoidosa.
Algomed Publication.
United States Environmental
Protection Agency. 2012. An Introduction to Water Quality Monitoring. http://water.epa.gov/ diakses pada tanggal 11 April 2015 pukul 20.21.
Wilson, J. 2005. Sensor Technology Handbook. Oxford.
Newnes.
World Health Organization.
1997. Water Pollution Control: A Guide to
the Use of Water Quality Management Principles. London:E&FN Spon